Trump & Social Media-nya: Ketika Narasi Menjadi Senjata yang Lebih Tajam dari Rudal

Dok. CNN

Konflik segitiga antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran kini bukan sekadar adu kekuatan rudal di lapangan, melainkan perang persepsi yang masif di ruang publik. Di tengah desingan misil, muncul fenomena menarik: bagaimana Donald Trump menggunakan otoritasnya untuk membangun realitas alternatif yang mendominasi kesadaran global. 

Dualisme Narasi: Klaim vs Realitas

Trump berulang kali melempar klaim melalui akun Truth Social bahwa Iran tengah berada di ambang kekalahan atau sedang memohon gencatan senjata. Namun, Teheran justru memberikan respons yang kontradiktif. Pemerintah Iran menegaskan bahwa klaim Trump tidak berdasar; komunikasi memang ada, namun tidak pernah menyentuh substansi gencatan senjata sebagaimana yang dicitrakan Washington.  

​Perbedaan narasi ini bukan sekadar masalah miskomunikasi, melainkan upaya sistemik untuk mendominasi apa yang dianggap “nyata” oleh publik dunia. Trump memanfaatkan posisinya sebagai pemimpin Great Power untuk menciptakan kesan bahwa AS memegang kendali penuh atas konflik tersebut.  

Infografis Klaim Trump dan Bantahan Iran. (Sumber: Penulis)

​”Selat Trump” dan Teatrikal Politik

Gaya komunikasi Trump yang “liar” dan kontroversial, mulai dari penggunaan diksi kasar di media sosial hingga celetukan spontan yang menyebut Selat Hormuz sebagai “Selat Trump”, menunjukkan tren baru dalam diplomasi modern. Bagi Trump, media sosial dan konferensi pers bukan lagi sarana informasi, melainkan panggung teatrikal untuk mengendalikan kesan publik.  

​Meskipun banyak pengamat menilai komunikasi ini tidak mencerminkan sikap seorang presiden, bagi Trump, tujuannya tercapai: ia menjadi pusat gravitasi dari setiap percakapan global mengenai konflik ini.  

Postingan Donald Trump di akun media sosial Truth Social pada Minggu, 5 April 2026. (Sumber: Penulis)

Matinya Fungsi Penyaring Media?

​Fenomena ini membawa implikasi serius bagi ekosistem informasi. Ketika aktor politik sekelas Trump mampu membangun narasinya sendiri secara masif, media massa, termasuk media besar seperti The New York Times, seringkali terjebak dalam dilema antara melakukan verifikasi atau sekadar melaporkan pernyataan sang presiden.  

​Akibatnya, fungsi media sebagai penyaring informasi mulai terganggu. Publik tidak lagi mengonsumsi fakta mentah, melainkan realitas yang telah dikonstruksi secara selektif untuk mencapai tujuan politik tertentu. 

Kesimpulan: Dominasi di Era Modern

​Dalam perang era modern, kekuatan fisik bukan lagi penentu tunggal kemenangan. Siapa pun yang paling mendominasi narasi dan mampu mengarahkan persepsi publik, dialah yang memegang kendali strategis selama konflik berlangsung. Trump telah membuktikan bahwa dengan mengabaikan fakta lapangan dan konsisten memproduksi narasi sendiri, ia dapat tetap eksis sebagai tokoh utama, terlepas dari apa yang sebenarnya terjadi di garis depan.

Opini tidak mencerminkan pandangan redaksi SiPalingHI! Media.

Fadhilatul Dewi Anggraeni, mahasiswi S1 jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Memiliki keseharian sebagai kontributor tulisan yang fokus pada isu sosial dan politik.

Scroll to Top