Dok. Reuters
Dialog antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran yang berlangsung secara kebut-kebutan berakhir buntu. Kedua belah pihak belum bisa bersepakat dan membuat nota kesepahaman hitam di atas putih. Negosiasi antara Washington dan Teheran setidaknya berlangsung selama kurang lebih 21 jam. Wakil Presiden AS, JD Vance, bahkan sampai turun gunung. Ia tampil sebagai juru bicara Gedung Putih. Sementara, Iran memilih “sekadar” mengutus Ketua Parlemen, Mohammed Bagher Qalibaf, sebagai duta negosiasi. Dengan sukarela, Pakistan menjembatani pertemuan penting dua negara yang kini tengah bersitegang itu.
Meski telah melibatkan pejabat tinggi dari kedua negara beserta mediator, nyatanya kesepakatan gagal mewujud. Dialog “tingkat dewa” pertama antara AS dan Iran sejak 1979 itu sama sekali tak menghasilkan apa pun, selain seperti ujaran Vance: kabar buruk! Alih-alih bisa menuntaskan konflik, pertemuan di Islamabad itu justru berasa malah akan meningkatkan tensi perseteruan. Setidak-tidaknya, nuansa saling sindir dalam konteks geopolitik justru kian kentara. Hal itu tak lepas dari sikap arogan AS yang memang sejak semula tampak tak benar-benar menempatkan Iran sebagai mitra diplomasi yang setara.
Nuansa itu mewujud dalam komentar Wakil Presiden AS, JD Vance, seusai meninggalkan ruangan rapat. Kepada wartawan, sebagaimana dilansir dari media Al Jazeera, Vance menyebut bahwa keengganan Iran menerima “offering” AS akan sangat merugikan pihak Teheran. “Kabar buruknya, kesepakatan tak terjadi. Saya pikir kabar ini berdampak lebih buruk bagi Iran ketimbang pada Amerika,” ujar Vance dengan pongah. Kepongahan AS kian tampak kentara kala sebuah berita menyebutkan bahwa Presiden Donald Trump tengah asyik menonton laga Ultimate Fighting Championship (UFC) di Miami saat negosiasi krusial itu berlangsung.
Sikap Trump tentu tak bisa sekadar dibaca sebagai aktivitas personal biasa. Pasalnya, buntunya negosiasi AS dan Iran jelas membuat usulan gencatan senjata batal terlaksana. Tapi Trump seolah enggan ambil pusing. Ia seperti tengah berkata kepada publik internasional bahwa AS sebetulnya sama sekali tak butuh membikin kontrak damai apa pun dengan Iran. Lagi pula, sejak awal, presiden dari Partai Republik itu telah sering sesumbar soal rencana menyerbu Iran habis-habisan. Ia bahkan sempat membikin “deadline” bagi Iran untuk segera membuka akses Selat Hormuz.
Sementara itu, melansir pemberitaan The New York Times, pemerintah Iran menyebut bahwa dialog negosiasi kemarin membahas tiga hal pokok. Kedua negara berdiskusi tentang Selat Hormuz, produksi uranium Iran, serta sanksi pembekuan pendapatan global yang Iran alami. Menanggapi buntunya perundingan itu, pemerintah Iran mengaku tak terkejut. Apalagi, dalam dialog yang kesannya “buru-buru amat” alias maraton itu, AS sangat memojokkan Iran. Washington secara terang-terangan menekan Teheran untuk menghentikan proyek persenjataan nuklir mereka. Sementara, AS sendiri dalam sejarahnya bahkan pernah membuat bom atom untuk menghantam Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945.
“Sedari awal, kita tidak berharap bahwa negosiasi ini akan mencapai kesepakatan dalam sekali tempuh. Tak seorang pun punya harapan saling bersepakat,” tegas juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei. Tanggapan Iran ini sejatinya dapat dibaca sebagai respons balasan terhadap kepongahan AS. Saat Trump menunjukkan kemalasannya menaruh perhatian pada negosiasi dengan Iran, Teheran membalas sikap pentolan Gedung Putih itu dengan “menolak berekspektasi”. Artinya, Iran sendiri sebetulnya tak terlalu bersemangat dengan negosiasi itu. Mereka lebih seperti menghormati niat baik sahabat politik mereka, Pakistan, yang mau menengahi.
“Kami berharap kedua pihak bisa melanjutkan negosiasi dengan niatan yang baik untuk menciptakan masa damai dan kesejahteraan untuk seluruh wilayah atau bahkan lebih,” tutur Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar. Tentu, Pakistan sedari sebermula tidaklah lupa bahwa inisiasi negosiasi yang mereka buat bakal berakhir buntu seperti ini. Rasa-rasanya, membuat AS dan Iran bisa bergandeng tangan dan berkata “agree” serupa dengan membujuk Nyi Roro Kidul untuk mau hijrah ke Pantai Utara. Terlepas dari semua itu, buntunya kesepakatan antara Iran dan AS membuat potensi berlanjutnya perang belum bisa diantisipasi. Warta soal drone, ledakan, korban jiwa, serta pernyataan saling tuding mungkin masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan. Meski begitu, prediksi buru-buru soal meledaknya Perang Dunia III belum akan terwujud.
Opini tidak mencerminkan pandangan redaksi SiPalingHI! Media.
M. Khoirul Imamil M, Mahasiswa pascasarjana Linguistik Terapan FBSB UNY.



