Sisi Lain Relasi Israel-Palestina

Sebagai padri dan mahasiswa pascasarjana di sebuah kampus di Roma, saya pernah mengunjungi Israel dan Palestina selama sebulan. Waktu itu saya bisa masuk Israel karena jaminan surat keterangan dari kampus berstatus universitas kepausan yang diakui Tahta Suci Vatikan. Tanpa surat dari Vatikan itu, saya pasti tak bisa masuk karena Indonesia memang tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Para peziarah Indonesia biasanya bisa masuk melalui negara lain, seperti Yordania.

Saya ingat perjumpaan dengan seorang wanita Palestina di Yerusalem. Udara Yerusalem yang cenderung panas mendadak terasa sejuk ketika saya berjumpa Ibu Fatima. Senyumnya yang tulus membuat suasana biara milik para padri Serikat Yesus di dekat Gerbang Barat kota suci aneka agama itu nyaman. 

Fatima, wanita berhijab itu, adalah satu dari sekitar 160.000 pekerja Palestina yang bekerja di wilayah Israel. Ibu paruh baya ini setiap hari melintasi pos pemeriksaan keamanan yang membatasi Tepi Barat dan Israel.

Mungkin tak banyak orang Indonesia yang tahu, meski kerap dipandang jahat, saat ini Israel mempekerjakan ribuan pekerja Palestina dari Tepi Barat dan Gaza. Sebagian besar bekerja pada sektor konstruksi bangunan dan pertanian. Sisanya bekerja di sektor nonformal, termasuk Fatima yang bekerja sebagai juru masak di biara Padri Katolik di Yerusalem.

Yerusalem mencerminkan ironi sekaligus harapan. Sebuah ironi karena kota ini bermakna Kota Damai, namun terus menjadi objek perselisihan. Suatu harapan karena kota ini menjadi saksi hidup bersama aneka pengikut agama besar di dunia. Ya, kota berpenduduk sekitar 971.000 orang itu adalah rumah bagi penganut Yudaisme, Kristen, dan Islam. 

Yerusalem adalah kota yang pada saat yang sama menjadi simbol perselisihan sekaligus koeksistensi. Pada 2020, populasi Yerusalem terdiri dari hampir 60 persen Yahudi, 37 persen Muslim, dan dua persen Kristen. Kota berusia lebih dari tiga ribu tahun ini dibagi menjadi empat perkampungan: Yahudi, Muslim, Kristen, dan Armenia. Keberagaman di Yerusalem merefleksikan kebinekaan Israel. Pada 2020, Israel terdiri dari sekitar 74 persen penganut Yudaisme, 17 persen Islam, dan dua persen Kristen. 

Tak banyak yang menyadari bahwa penganut agama Islam dan aneka agama lain telah lama menyatu dalam kehidupan sehari-hari di Israel. Buktinya, sebagian kecil tentara Israel beragama Islam. Mereka umumnya berasal dari kaum Arab Bedouin. 

Bukti lain tampak dalam dunia olahraga. Para pemain Yahudi, Kristen, dan Islam bahu-membahu membela tim nasional Israel. Umpama, Walid Badir telah 74 kali memperkuat timnas Israel antara 1997 dan 2007. 

Di sisi lain, tim nasional Palestina juga terbuka terhadap pemain bukan Muslim. Tim sepak bola wanita Palestina memang diperkuat mayoritas pemain Muslim, tetapi kaptennya, Honey Thaljieh, adalah seorang Kristen dari Betlehem. Timnas sepak bola pria Palestina juga pernah diperkuat Roberto Bishara, seorang Kristen. Ia tampil 26 kali dalam kurun waktu 2003–2014. 

Harapan Hidup Damai

Sama seperti Israel, Palestina adalah negeri bhinneka. Negeri berpenduduk sekitar lima juta warga ini memiliki 93 persen Muslim dan tujuh persen penganut agama lain, termasuk Kristen, Yudaisme, dan Druze atau agama Samaria. Di wilayah yang dianggap Palestina, ada sekitar 400.000 pemukim Yahudi yang mengidentifikasi diri mereka sebagai Yahudi Palestina meskipun dianggap warga negara Israel. 

Fatima, sama seperti para warga biasa Israel dan Palestina, tak menghendaki terjadinya konflik berkepanjangan. Mereka hanya ingin hidup damai. Di Israel dan Palestina, olahraga menjadi wahana untuk merayakan keberagaman. 

Soedjatmoko (1922-1989), seorang pemikir bangsa, menilai bahwa kunci pokok keberlangsungan manusia adalah kemampuan kita untuk menghargai dan menghormati perbedaan yang merupakan keniscayaan. 

Menyitir Barbara Ward, “Either we learn to love each other, or we will perish”. Kita berhadapan dengan pilihan: apakah kita mencintai satu sama lain atau kita akan musnah? Soedjatmoko menegaskan kita semakin memerlukan lembaga sosial yang dapat meredam bahaya kekerasan dalam dunia yang semakin tidak pasti dan berbahaya.

Saat ini pun, di tengah konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina, rakyat biasa di kedua negara dalam hati kecil merindukan perdamaian. Pembelaan kita terhadap kedaulatan setiap bangsa bisa diwujudkan dengan aneka cara diplomatis yang elegan dan hangat. Sehangat secangkir teh yang disajikan Fatima pada sebuah senja di Yerusalem. 

Kembali ke kisah saya belajar arkeologi alkitabiah di Israel-Palestina. Suatu ketika kami akan berangkat dari Yerusalem ke Betlehem. Meskipun jarak dua kota itu hanya sebelas kilometer, kami harus melintasi pos penjagaan. Maklum saja, Betlehem, yang merupakan tempat kelahiran Yesus, masuk wilayah Palestina. Dosen pembimbing saya, seorang Italia, berpesan, “Para mahasiswa, jika kalian ingin membeli suvenir, belilah nanti di Bethlehem.” Kami belum mengerti maksud pesan dosen itu. Ia pun melanjutkan, “Mengapa? Karena penduduk Betlehem hidup dalam kekurangan. Jadi, belilah cenderamata di sana untuk membantu warga Palestina.” Saya mengangguk.

Ketika tiba di Betlehem, kami dibawa ke Padang Gembala, tempat yang diyakini sebagai gua-gua para gembala yang menjadi saksi kelahiran Yesus. Dari Padang Gembala itu, kami melihat panorama Betlehem dari atas. Dosen kami bertutur tentang bagaimana Israel membuat kota-kota satelit untuk menampung orang Yahudi yang ingin kembali ke kawasan Israel-Palestina. Celakanya, kota-kota satelit itu menggunakan sumber air yang tadinya milik orang Palestina. Tambah lagi, jalan raya yang dibangun Israel merampas tanah dan ladang milik orang Palestina. Dampaknya, orang Palestina harus memutar lewat pos penjagaan yang jauh karena lahan atau tanah mereka dibelah oleh jalan raya buatan Israel itu. Sungguh miris. 

Memang benar, di Indonesia sering kali kita menerima berita yang berat sebelah. Ada media yang menjadi corong Barat. Ada pula media yang memihak kepada Palestina, namun kurang cermat. Di media sosial, orang Indonesia yang minim literasi lantas mengungkapkan ujaran kebencian dan mengaitkan konflik ini dengan agama-agama tertentu. Padahal, senyatanya tidak selalu demikian. 

Pengamatan dan studi saya menunjukkan kedua pihak, khususnya para petinggi politik, sama-sama punya kesalahan. Konflik berkepanjangan ini memang sangat rumit karena dipicu aneka faktor. Rakyat sipillah yang menanggung akibatnya.

Saya ingat betul ketika kami tiba di Kana di Galilea, suara sirene tiba-tiba dibunyikan. Saya dan kawan-kawan sempat panik karena mengira ada serangan militer. Para dosen kami lantas memberi kami pengertian bahwa sirene itu rutin dibunyikan di sekolah dan perumahan sebagai latihan kewaspadaan bagi warga. 

Saya menjadi sedih ketika membayangkan diri saya menjadi anak-anak di Israel-Palestina yang setiap hari diteror oleh sirene atau bahkan harus mengalami serangan militer yang sesungguhnya. Dalam hati, saya hanya bisa berdoa mengamini nubuat nabi Yesaya, “Mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas. Bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang” (Yesaya 2:4). Salam damai untuk kita semua. 

Opini tidak mencerminkan pandangan redaksi SiPalingHI! Media.

Bobby Steven Octavianus, Dosen Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Padri Misionaris Keluarga Kudus (MSF), dan alumnus Pontificio Istituto Biblico Roma.

Scroll to Top