TEHERAN — Di tengah tegangnya konflik Iran, Amerika Serikat telah meluncurkan serangan rudal ke Pulau Kharg di Iran. Serangan ini telah melemahkan dan menghancurkan sebagian besar fasilitas minyak Iran. Trump menyatakan bahwa serangan AS telah “menghancurkan sepenuhnya” pulau itu dan mengatakan kepada NBC News pada Sabtu (14/3) bahwa AS akan “menyerang beberapa kali lagi untuk bersenang-senang.”
Serangan ini merupakan bagian dari serangan AS setelah penutupan Selat Hormuz oleh Angkatan Bersenjata Iran. Penutupan ini telah mengancam perekonomian global dan memulai krisis minyak dan energi internasional. Membalas krisis ini, Donald Trump telah menekankan bahwa AS akan menargetkan infrastruktur minyak jika Iran kelak menghadang jalur logistik minyak di Selat Hormuz. Abbas Araqchi, Menteri Luar Negeri Iran, menyatakan bahwa Iran akan membalas serangan terhadap fasilitas energi mereka.
Iran menunjukkan sikap menantang dengan menyerang fasilitas apa pun yang terkait dengan Amerika Serikat di kawasan tersebut, dengan mengidentifikasinya sebagai “sasaran yang sah”. Pada hari Sabtu drone militer Uni Emirat Arab telah mencegah serangan Iran. Teheran telah menolak menghentikan pemboman kecuali serangan Amerika dan Israel dihentikan. Namun, Donald Trump menyebut bahwa “syarat-syaratnya belum cukup baik.”
Trump telah mengajak dan menuntut bantuan kapal dari Tiongkok, Jepang, Prancis, Inggris, dan Korea Selatan untuk keamanan Selat Hormuz. Walau Prancis bersedia membangun koalisi keamanan, Inggris dan politisi Jepang masih meninjau ulang gagasan tersebut.



