WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan provokatif dengan mengklaim dirinya memiliki kekuasaan penuh untuk mengambil alih Kuba. Pernyataan ini dilontarkan di tengah krisis energi hebat yang melumpuhkan Havana, serta hanya berselang beberapa hari setelah AS melancarkan serangan militer terhadap Iran.
“Saya percaya bahwa saya punya kehormatan untuk mengambil alih Kuba. Entah membebaskannya atau mengambil alih, saya bisa melakukan apapun yang saya mau,” tegas Trump kepada para wartawan pada Senin (16/3) waktu setempat.
Trump memanfaatkan situasi krisis listrik permanen yang melanda Kuba sebagai instrumen tekanan politik. Kuba kini kehilangan pelindung utama setelah pengaruh Venezuela dilemahkan oleh intervensi AS. Ancaman tersebut muncul setelah Kuba mengalami pemadaman total. Pemadaman tersebut diakibatkan tiadanya pasokan minyak yang datang ke Kuba sejak 9 Januari. Havana juga menuduh bahwa ancaman tarif yang dikeluarkan pada bulan Januari lalu kepada negara yang menjual atau menyediakan minyak kepada Kuba turut memperburuk situasi. Akhir-akhir ini Kuba dilaporkan sering mengalami pemadaman listrik akibat fasilitas yang menua.
Demi mengurangi tekanan ekonomi AS, Menteri Perdagangan Internasional Kuba, Oscar Perez-Oliva Fraga, mengumumkan bahwa para diaspora Kuba dapat berinvestasi dan memiliki bisnis di Kuba.
“Kuba terbuka untuk menjalin hubungan komersial yang lancar dengan perusahaan-perusahaan AS” dan “juga dengan warga Kuba yang tinggal di Amerika Serikat dan keturunan mereka,” sebutnya.
Sementara itu, kerusuhan disebut telah terjadi di Kuba akibat pemadaman listrik tersebut, kekurangan obat, dan kebutuhan dasar. Rakyat yang kecewa sempat membakar kantor Partai Komunis dan beraksi pada malam hari dengan memukul panci dan kuali sembari meneriakkan “libertad” yang artinya kebebasan.



