DIPLONET 2026: Ngobras (Ngobrol Asik) on Youth Diplomacy dan International Networking Cuisine 

DEPOK — Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia berkolaborasi dengan Universitas Islam Internasional Indonesia mengadakan acara DIPLONET 2026 dengan mata acara utama yaitu sebuah talkshow interaktif dalam series Ngobras (Ngobrol Asik) dengan tema Youth and Diplomacy pada Jumat (13/3). Selain itu, rangkaian acara dilanjutkan dengan Iftar berkonsep International Cuisine bersama mahasiswa asing UIII dari 10+ negara yang membawakan kuliner khas negara mereka masing-masing. 

Acara ini dimulai dengan kata sambutan dari Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kemlu RI, R. Heru Hartanto Subolo, yang menekankan tentang pentingnya diplomasi inklusif di abad ke-21 melalui peran pemuda sebagai aktor aktif. Setelah sambutan, diadakan acara utama berupa talkshow semiformal yang diisi oleh beberapa narasumber dengan latar belakang berbeda, seperti perwakilan Kementerian Luar Negeri, organisasi pemuda, hingga mahasiswa internasional. Diskusi ini dipimpin oleh Rafliansyah, CEO SiPalingHI!, selaku moderator.

Dalam Ngobras kali ini, diskusi dimulai dengan pertanyaan yang sederhana dan mendasar: Why is youth important? Muhammad Takdir, Kepala Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri Kemlu, menjelaskan bahwa diplomasi publik bisa dilaksanakan melalui cara-cara inkonvensional seperti sosial media, hingga budaya seperti film. Selain itu, Takdir juga menjelaskan pentingnya peran pemuda dalam diplomasi melalui beberapa cerita, seperti bagaimana gerakan besar yang diambil suatu negara adalah gerakan yang digerakkan oleh pemuda, seperti Brexit. 

Nurul Hidayatul Ummah, Vice President dari OIC Youth Indonesia, optimis bahwa pemuda dapat berperan lebih dalam diplomasi karena tidak terhalang oleh birokrasi. Pertanyaan ditutup dengan jawaban dari Sohaib Shafique, seorang mahasiswa doktoral UIII asal Pakistan, yang memberikan pesan “Good leaders understand each other, it has to be developed, it’s not built in 1 or 2 days.” Artinya, peran pemuda dalam diplomasi sangat mungkin untuk dicapai melalui saling memahami satu sama lain. 

Diskusi berjalan dengan pertanyaan penting selanjutnya: In diplomacy, where should youth start? Takdir menjelaskan bahwa pemuda dapat berkontribusi maksimal mulai dari tanggung jawab dasar masing-masing. Selaras dengan konsep foreign policy begins at home, Takdir berharap organisasi dan institusi dalam berbagai sektor seperti pariwisata, ekonomi, hingga diplomasi dapat berakar dari visi pemuda yang segar dan membawa perspektif baru bagi Indonesia. Setelahnya, Nurul membawakan perspektif yang tegas bahwa pemuda harus berani untuk mengungkapkan pendapat, memberi kritik dan saran, agar pemuda dapat berperan maksimal melalui interaksi erat. Pertanyaan ditutup dengan pesan dari Sohaib: “To understand each other is to be active.” Karena, pemuda dengan eksposur tinggi terhadap kebudayaan memiliki kelebihan dalam memahami dan mempromosikan budaya tersebut sebagai soft power.

Setelah semua narasumber memberikan pandangan berdasarkan pertanyaan pemantik dari moderator, diskusi dilanjutkan dengan sesi Q&A oleh peserta dari beberapa negara. Inti dari pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan adalah: Bagaimana pemuda dapat berperan maksimal dalam diplomasi ketika dianggap tidak menghasilkan profit? Dan bagaimana solusi konkret untuk memastikan efektivitas kepemimpinan pemuda? Para narasumber sepakat bahwa pemerintah harus memberikan dukungan kepada pemuda, hal ini juga dapat dilaksanakan melalui bentuk yang menghasilkan profit seperti pemberdayaan bisnis. Dukungan terhadap pemuda bukan merupakan suatu biaya, tetapi investasi, pemuda harus diberikan kesempatan, ruang dialog, dan pengembangan. Rafliansyah selaku moderator menyimpulkan talkshow ini dengan kalimat: “Youth is not just about numbers, but we need actual participations.”

Setelah talkshow ditutup, acara utama dilanjutkan dengan sesi networking. Acara ini dilakukan melalui iftar dalam bentuk International Cuisine dengan para mahasiswa asing UIII dari 10+ negara Asia Timur hingga Timur Tengah membawakan makanan dan minuman khas masing-masing. Sesi diadakan dengan cara peserta berkeliling booth yang diisi oleh perwakilan negara masing-masing. Peserta dapat berdiskusi seperti penjelasan tentang kuliner yang ada hingga berkenalan dengan satu sama lain. DIPLONET 2026 menjadi pengalaman komplit yang menghadirkan diskusi reflektif yang produktif, hingga memperkuat jaringan di tengah hangatnya bulan Ramadhan.

Tim Redaksi

Scroll to Top