MIAMI — Hari Sabtu (28/3) menandai tepat satu bulan sejak pecahnya perang antara Iran dengan koalisi Amerika Serikat dan Israel. Konflik ini telah memperburuk krisis energi global akibat penutupan Selat Hormuz, serta memicu instabilitas di Timur Tengah menyusul rentetan serangan rudal Iran ke negara-negara tetangganya.
Dalam pidatonya di forum Future Investment Institute di Miami pada Jumat (27/3) waktu setempat, Donald Trump mendesak Iran untuk kembali membuka Selat Hormuz, yang secara berseloroh ia sebut sebagai “Selat Trump”. Sebelumnya, ia mengancam akan “menghancurkan seluruh infrastruktur energi dan pembangkit listrik milik Teheran” jika desakan tersebut diabaikan sampai 6 April, sebuah batas waktu yang telah ditetapkan setelah sempat ditunda akibat adanya negosiasi. Trump juga memperingatkan bahwa masih banyak target lain yang bisa diserang. Ia menegaskan bahwa perang dengan Iran saat ini “belum selesai,” meskipun pernyataan tersebut tampak bertolak belakang dengan pidatonya di Ruang Oval pada Selasa lalu.
Sementara itu, intensitas serangan AS dan Israel terhadap Iran masih berlanjut. Sebelumnya, gempuran di Provinsi Kermanshah telah menewaskan 13 orang, termasuk perempuan dan anak-anak. Serangan lain di wilayah Karkhaneh juga menelan tujuh korban jiwa. Menurut laporan media pemerintah Iran pada hari Jumat (27/3), Israel turut menargetkan sejumlah situs nuklir, termasuk fasilitas pengayaan uranium dan pengolahan air berat di Iran tengah, serta dua pabrik baja di Isfahan.
Sebagai balasan, Iran telah meluncurkan serangan ke Pangkalan Udara Pangeran Sultan, yang melukai 12 personel militer AS pada Jumat (27/3). Houthi baru saja meluncurkan serangan pada hari ini dengan menargetkan “target militer penting” Israel. Mereka mengancam akan terus menyerang dengan rudal balistik sampai agresi di seluruh front dihentikan.



