Aristotle’s Rhetorical Triangle: Cara Menjadi Persuasif Dalam Diplomasi 

Dalam diplomasi, pengaruh bukan berasal dari siapa yang paling banyak berbicara, tetapi siapa yang paling bijak memilih strategi untuk mendapatkan perhatian audiens. Apa saja yang harus dijelaskan untuk menjadi persuasif? Ayo kita pelajari melalui Aristotle’s Rhetorical Triangle!

What Is the Rhetorical Triangle?

Menurut Aristoteles, Rhetoric adalah seni berbicara yang persuasif, yang dapat dipelajari melalui: Ethos (Kredibilitas), Pathos (Emosi), dan Logos (Fakta).

Ketiga aspek ini sama pentingnya satu sama lain, tergantung konteks dan situasi yang dibutuhkan. Karena itu Aristoteles mengilustrasikan teknik ini dengan simbol segitiga sama sisi yang menggambarkan keseimbangan antara penguasaan ketiga aspek ini. Dengan memahami 3 aspek penting ini, kita dapat menguasai seni berbicara yang persuasif.

Ethos: Build Your Credibility, Control The Stage!

Ethos (appeal to credibility) adalah cara pembicara menunjukkan karakter, reputasi, dan kelayakannya. Seorang pembicara akan lebih disegani dan diperhatikan audiens jika memiliki latar belakang dan keahlian pada bidangnya. Dalam konteks komunikasi, aspek ini bukan hanya tentang membangun karir yang relevan, tetapi bagaimana kita membawakan diri di depan audiens. Audiens akan lebih percaya kepada sosok pembicara yang tegas, percaya diri, dan menguasai materi yang dibawakan. 

Pathos: Connect With Your Audience!

Pathos (appeal to emotion) adalah cara pembicara mempengaruhi emosi audiens. Dalam komunikasi, satu hal penting yang harus kita pahami: Manusia adalah makhluk yang subjektif dan tidak sepenuhnya rasional. Artinya, untuk meyakinkan seseorang, sekadar membawakan fakta tidak cukup, tapi kita harus membuat orang lain merasa terhubung dengan argumen kita. Audiens akan lebih mudah menerima argumen yang memancing empati mereka. 

Logos: Create Understanding Through Reasoning!

Logos (appeal to reason) adalah cara pembicara membawakan argumen yang faktual dan mudah dimengerti. Argumen yang baik bukan hanya tentang data dan fakta, tetapi tentang alur berpikir yang jelas dan mudah dimengerti. Pembicara yang baik harus menjelaskan fakta dengan cara yang dapat ditangkap audiens, bukan sekadar data bombing. Audiens akan lebih mudah memahami pesan yang logis, runtut, dan konsisten.

How Diplomats Use Rhetoric Triangle To Be Persuasive?

Mari kita analisis pidato Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri Indonesia (2014-2024) dalam 10th Special Emergency Session of the United Nations General Assembly 2023.

Ethos:  “In this regard, there are three plus one concrete steps that we should take : First, stop the aggression to prevent more civilian casualties. Second, ensure humanitarian access and protection of civilians. Third, reject the forced transfer of civilians in Gaza. For our part we will triple our voluntary contribution to the UN ROA and call on the International Community to support the UN ROA.”

Di sini, Retno Marsudi menunjukkan kredibilitas nya sebagai Menteri Luar Negeri, kepercayaan diri dan penguasaan topik. Audiens akan percaya kepada pembicara yang tegas dan paham apa yang dibawakannya. 

Pathos:  “I am standing here not only as the foreign minister of Indonesia but also as a woman, a mother, and a grandmother.”

“I plead ‘Stop the Killing!’, protect the civilians, let in humanitarian assistance.”

“Use your heart! Use your heart for justice and humanity.”

Melalui kalimat-kalimat ini, Retno Marsudi tidak hanya memberikan data dan fakta, tetapi menyentuh empati audiens. Dengan ini, audiens akan lebih tergerak untuk percaya terhadap argumen kita.

Logos:  “The world seems divided in different realities as if there is a refusal to see the catastrophe in Gaza. The fact is attacks and killings continue to take place. Yet, amid such a large number of victims the Security Council failed to take action, “Decisive Action”.

Retno Marsudi juga mengungkap fakta dan data yang terjadi di lapangan sebagai pokok argumen. Audiens akan mulai berpikir secara rasional dan mulai memiliki pertimbangan yang matang.

What Can We Learn?

“Think like a wise man, but express yourself like common people.”  — Aristotle

Komunikasi khususnya dalam konteks diplomasi adalah proses dua arah antar manusia. Artinya, menjadi persuasif membutuhkan seni berbicara yang komprehensif, mulai dari mempengaruhi kredibilitas, emosi, maupun rasionalitas audiens. Pembicara yang baik adalah pembicara yang mampu memanfaatkan aspek-aspek ini sesuai konteks di lapangan. 

Tim Redaksi

Scroll to Top