Dok. SiPalingHI! Media/Nakeisha
JAKARTA — Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) mengundang Menteri Luar Negeri Filipina, Maria Theresa P. Lazaro, dalam diskusi publik bertajuk “Forging Ahead in Crisis: Philippines-Indonesia Relations, ASEAN Chairship, and Regional Resilience”. Acara yang digelar pada Kamis (23/4) ini bertempat di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta, berkolaborasi langsung dengan Kedutaan Besar Republik Filipina.
Diskusi publik ini tepat berlangsung ketika Filipina menjabat sebagai Ketua ASEAN pada tahun ini. Sebelumnya, Lazaro juga bertemu dengan Menlu Sugiono di Gedung Pancasila untuk membahas penguatan kerja sama antarkedua negara, dari bidang ekonomi hingga geopolitik.
Acara ini dibuka dengan sambutan dari Wakil Rektor Unika Atma Jaya, Yanti, Ph.D., serta Pendiri dan Ketua FPCI, Dr. Dino Patti Djalal. Dalam pidatonya, Dino menggarisbawahi pentingnya Sentralitas ASEAN, kohesi di antara sebelas negara anggota, serta visi ASEAN yang berpusat pada masyarakat.
“Tentu saja, ketika kita berbicara tentang ASEAN yang berpusat pada masyarakat, kita harus memberikan ruang bagi warga untuk berinisiatif, berkomunikasi, dan menyuntikkan nilai-nilai yang bermakna bagi komunitas ini,” ujar Dino.
Dalam pidato utamanya, Lazaro mengungkit bahwa penyelesaian batas maritim Indonesia dan Filipina pada 2014, yang negosiasinya berlangsung selama 20 tahun, dapat menjadi sebuah model dalam menyelesaikan isu sensitif murni dengan mendasarkan pada “hukum dan dialog daripada armada laut”. Hal tersebut tak lepas dari sengketa Filipina dengan Tiongkok dalam isu nine-dash line.
Selain itu, Lazaro turut mengangkat usaha untuk membangun sebuah “koridor kesejahteraan” melalui resiliensi rantai pasok, integrasi ekonomi yang lebih besar, transformasi digital, dan pembangunan regional yang inklusif dan berkelanjutan dalam merespons konflik di Timur Tengah.
Lebih lanjut, Lazaro menyoroti peringatan 50 tahun penandatanganan Treaty of Amity and Cooperation (TAC). Kendati menjadi fondasi hukum kawasan, ia mengingatkan bahwa perdamaian yang dihasilkan dokumen ini masih rapuh dan menuntut komitmen ulang setiap harinya. Prinsip-prinsip TAC, seperti penyelesaian sengketa secara damai dan non-intervensi, kini tengah diuji habis-habisan oleh instabilitas global. Maka, Lazaro menyebut bahwa dengan situasi geopolitik yang berlangsung sangat cepat, ASEAN harus dapat mengejar situasi tersebut. Begitu juga generasi muda hendaklah mengerti apa itu ASEAN.
“Apa yang membuat saya khawatir adalah, saya pikir justru generasi peneruslah yang seharusnya lebih mengerti seperti apa ASEAN itu sesungguhnya. Saya pikir kesadaran generasi selanjutnya terhadap ASEAN masih rendah,” sebut Menlu Filipina tersebut.



