CAPE CANAVERAL – Amerika Serikat resmi memulai babak baru perlombaan ruang angkasa abad ke-21 setelah NASA berhasil meluncurkan misi berawak Artemis II dari Kennedy Space Center, Florida, Rabu (1/4). Peluncuran ini bukan sekadar pencapaian teknis pengiriman empat astronot ke orbit Bulan, melainkan manifestasi strategi geopolitik Washington untuk mengukuhkan kepemimpinan global dan membendung dominasi Tiongkok di luar angkasa. Administrator NASA, Jared Isaacman, menegaskan bahwa misi ini adalah langkah awal untuk membangun pangkalan bulan untuk menciptakan kehadiran abadi di permukaan satelit Bumi tersebut.
Berbeda dengan Apollo yang unilateral, Artemis II berpijak pada Artemis Accords, aliansi diplomatik yang melibatkan 60 negara. Kehadiran Jeremy Hansen dari Canadian Space Agency di tengah kru NASA menegaskan posisi luar angkasa sebagai instrumen soft power AS untuk mengikat sekutu strategis. Strategi ini secara kontras berhadapan dengan blok International Lunar Research Station (ILRS) besutan Tiongkok-Rusia yang dianggap Washington sebagai aliansi tertutup.
Fokus Artemis pada kutub selatan Bulan bernilai strategis tinggi berkat deposit es air untuk produksi oksigen dan bahan bakar roket. Penguasaan titik krusial ini memberikan keunggulan logistik bagi perintis pangkalan permanen. Dengan target pendaratan Tiongkok pada 2030, NASA dipaksa mempercepat ritme peluncuran demi memastikan standar hukum dan zona keamanan Bulan tetap berada di bawah pengaruh norma internasional Barat.
Keberhasilan Artemis II adalah fondasi krusial bagi misi pendaratan Artemis III. Bagi Gedung Putih, memenangkan perlombaan ini merupakan imperatif keamanan nasional untuk menjaga marwah teknologi di tengah pergeseran orbit Bulan menjadi zona perebutan akses terhadap sumber daya dan pengaruh operasional antarnegara. Dominasi di ruang angkasa ini diprediksi akan mendikte peta kekuatan ekonomi dan militer global di masa depan.



