Dok. Global Light of Myanmar
NAYPYIDAW — Parlemen Myanmar hari ini (3/4) memulai pemungutan suara untuk memilih presiden baru. Min Aung Hlaing dijagokan kuat menjadi presiden baru setelah sebelumnya terpilih menjadi wakil presiden dari kamar rendah dan lima tahun setelah mengudeta pemerintahan Aung San Suu Kyi.
Min Aung Hlaing telah melepaskan jabatan panglima angkatan bersenjatanya pada Senin (31/3) lalu, yang dia serahkan kepada sosok setia yang memiliki reputasi keras terhadap pembangkang sekaligus mantan kepala intelijen Jenderal Ye Win Oo, setelah dia dipilih oleh kamar rendah untuk menjadi calon wakil presiden. Min Aung Hlaing dengan mulus menjadi wakil presiden nominasi kamar rendah setelah meraih 247 suara dari 260 anggota kamar rendah pada Selasa (1/4).
Menurut sistem Myanmar, Min Aung Hlaing akan bersaing dengan wakil presiden terpilih dari kamar atas, Nan Ni Ni Aye, dan wakil presiden dari militer, yang akan dinominasikan oleh militer, untuk mendapatkan suara terbanyak dari seluruh anggota Parlemen Myanmar agar dapat melaju ke kursi presiden. Para anggota parlemen dari Union Solidarity and Development Party, yang memenangkan 81% kursi yang dapat diisi dari pemilihan umum, dan para anggota parlemen dari militer yang otomatis menempati 25% kursi diduga kuat akan mendukung pencalonan Min Aung Hlaing menjadi presiden.
Pemilihan presiden ini berlangsung setelah diadakannya pemilihan umum oleh junta militer pada Desember sampai Januari silam. Pemilihan umum ini dianggap sebagai pemilu semu oleh para pengamat akibat partai-partai populer dilarang ikut dan banyak wilayah tidak mengadakan pemilu karena adanya perang saudara. Namun, junta militer menolak tuduhan ini dengan menyebutkan bahwa pemilu diadakan secara transparan dan adil.



