Dok. Global News
WASHINGTON – Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan NATO mencapai titik nadir setelah Presiden Donald Trump melontarkan kritik tajam yang menyebut aliansi tersebut gagal menjalankan perannya dalam perang Iran. Ketegangan ini memuncak usai pertemuan tertutup selama dua jam antara Trump dan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, di Gedung Putih pada Rabu (8/4), yang mengungkap keretakan mendalam terkait dukungan militer di Timur Tengah.
Washington mengecam penolakan sejumlah negara Eropa untuk mengizinkan penggunaan wilayah udara bagi jet tempur AS serta keengganan mereka untuk mengirimkan armada angkatan laut guna mengamankan Selat Hormuz.
“NATO tidak di sana saat kita membutuhkan mereka dan mereka tidak akan ada di sana lagi ketika kita membutuhkan mereka,” tegas Trump melalui akun Truth Social-nya setelah pertemuan berlangsung.
Perselisihan ini dipicu oleh perbedaan prioritas strategis yang ekstrem. Gedung Putih menuding para sekutu Eropa membelakangi rakyat Amerika Serikat yang selama ini menanggung beban finansial pertahanan aliansi. Di sisi lain, negara-negara anggota NATO di Eropa cenderung menahan diri dari keterlibatan langsung dalam konfrontasi militer dengan Teheran karena khawatir akan dampak terhadap stabilitas regional dan beralihnya fokus dukungan AS dari perang Ukraina.
Krisis ini memicu ancaman keluarnya AS dari NATO, aliansi yang kini dijuluki Trump sebagai macan kertas. Pakar keamanan menyebutnya sebagai titik nadir solidaritas transatlantik sejak 1949. Washington memandang sikap beberapa negara Eropa yang menutup wilayah udara dan menolak dukungan logistik sebagai bentuk pengkhianatan terhadap aliansi.
Hingga saat ini, Sekretaris Jenderal Mark Rutte hanya menyebut diskusi tersebut berlangsung jujur dan terbuka. Jika kesepakatan mengenai pembagian beban pertahanan dan strategi militer terhadap Iran tidak segera tercapai, aliansi Barat dikhawatirkan akan terfragmentasi, yang pada akhirnya dapat mengubah peta kekuatan geopolitik global secara permanen.



