Dok. BBC
Perundingan terkait serangan Israel di Lebanon dan konflik Iran dijadwalkan berlangsung pada hari Sabtu (11/4) di Islamabad, Pakistan. Sementara itu, perundingan terpisah juga akan dilakukan antara Israel dan Lebanon, sebagaimana pernyataan mengejutkan dari PM Benjamin Netanyahu.
Sebelum perundingan antara AS dan Iran disepakati, yang dimediasi oleh Pakistan, Presiden AS Donald Trump sempat melontarkan ancaman untuk menargetkan pembangkit listrik Iran yang dapat memicu kehancuran “sebuah peradaban”. Menanggapi ancaman tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa Teheran tidak akan membiarkan Washington terbebas dari konsekuensi perang, sekaligus menuntut kompensasi.
Wakil Presiden AS JD Vance dijadwalkan memimpin delegasi Washington dalam perundingan di Islamabad tersebut. Di pihak lain, susunan kepemimpinan delegasi Iran belum diumumkan secara resmi, meski nama Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menlu Abbas Araghchi diperkirakan akan memimpin delegasi Iran.
Sementara itu, terpisah dengan perundingan antara AS dan Iran, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menginstruksikan kabinetnya untuk segera memulai negosiasi langsung dengan pemerintah Lebanon. Netanyahu menegaskan bahwa perundingan tersebut akan berfokus pada pelucutan senjata Hizbullah dan pembentukan hubungan yang damai antara Israel dan Lebanon.
Meski membuka ruang negosiasi, sebelum ia menyatakan kesediaan untuk mengadakan negosiasi, Netanyahu secara tegas menyatakan bahwa Israel akan terus melanjutkan serangannya terhadap Hizbullah dengan kekuatan penuh. Keberlanjutan operasi militer ini dikonfirmasi oleh militer Israel pada Jumat (10/4) dini hari yang menyatakan telah menyerang 10 peluncur roket di Lebanon. Israel juga mengeklaim telah menewaskan Ali Yusuf Harshi, ajudan dan keponakan pemimpin Hizbullah Naim Qassem.



