Geliat Sang Naga: Perang di Iran dan Respons Tiongkok

Dok. Chatham House

Amerika Serikat dan Iran kini kembali terlibat dalam perang yang telah melibatkan berbagai serangan udara, kehancuran, serta berbagai potensi eskalasi di waktu mendatang.

Dari sekian banyak konsekuensi yang dihasilkan perang ini, penutupan Selat Hormuz menjadi salah satu konsekuensi dengan dampak yang luas, baik secara cakupan maupun dampak langsungnya.

Namun, selain fokus pada berbagai geliat Amerika Serikat dan Iran, perhatian serupa juga bisa diberikan kepada pihak lain dalam percaturan politik global, salah satunya adalah Tiongkok.

Tiongkok memiliki posisi yang menarik untuk dikaji mengingat kedekatannya dengan Iran serta berbagai respons yang telah dikeluarkannya.

What is Iran’s Role for China?

Di tengah gempuran sanksi dari Amerika Serikat yang melarang transaksi minyak Iran, Tiongkok tetap dapat membeli minyak Iran dengan menggunakan mata uang yuan. Hal ini memberi Iran kesempatan untuk memperoleh pemasukan terlepas dari sanksi Amerika Serikat. 

Tiongkok diperkirakan membeli sekitar 90% minyak Iran. Pada tahun 2025, setidaknya sekitar 13-14% minyak mentah yang Tiongkok impor datang dari Iran. Dengan demikian, dapat dilihat peran Iran sebagai salah satu keran minyak untuk Tiongkok.

Perkembangan perang antara Amerika Serikat dan Iran juga memperoleh respons dari Tiongkok. Tiongkok telah mengeluarkan beberapa pernyataan yang mengecam serangan Amerika Serikat, terutama terhadap fasilitas nuklir dan fasilitas sipil. Hal serupa juga dilontarkan kala Amerika Serikat berhasil membunuh beberapa tokoh pemerintah Iran.

Support from the Dragon

Respons serupa juga hadir dalam wujud bantuan. Sebagai contoh, setelah serangan terhadap sebuah sekolah di Iran, Chinese Red Cross Society (Palang Merah Tiongkok) dikabarkan akan memberikan US$200,000 sebagai bantuan kemanusiaan kepada Iran. 

Pada 15 April 2026, Iranian Red Crescent Society dikabarkan telah menandatangani sertifikat penyerahan bantuan kemanusiaan dari Tiongkok sebesar 58 ton.

Selain itu, Tiongkok juga tidak segan menggunakan hak vetonya dalam Dewan Keamanan PBB. Baru-baru ini, Tiongkok dan Rusia bahkan menggunakan hak veto terhadap resolusi yang disusun oleh Bahrain. Resolusi tersebut bertujuan untuk mendorong upaya koordinasi perlindungan kapal komersial dan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Tim Redaksi

Scroll to Top