Dok. Reuters
KYIV – Rusia meluncurkan salah satu gelombang serangan udara terbesar ke berbagai wilayah Ukraina pada Sabtu (25/4), yang menewaskan sedikitnya empat warga sipil dan melukai 30 orang lainnya. Gempuran ini melibatkan lebih dari 660 pesawat nirawak dan rudal, yang secara spesifik menargetkan kota Dnipro serta beberapa wilayah lainnya.
Angkatan Udara Ukraina melaporkan bahwa Rusia meluncurkan total 619 pesawat nirawak dan 47 rudal. Dari jumlah tersebut, sistem pertahanan udara Ukraina berhasil mencegat 580 pesawat nirawak dan 30 rudal.
Presiden Volodymyr Zelenskyy menegaskan bahwa target utama dari serangan ini bukan fasilitas militer, melainkan infrastruktur sipil perkotaan. Di kota Dnipro, tim penyelamat berhasil mengevakuasi dua jenazah dari sebuah bangunan yang hancur dihantam serangan, sementara otoritas setempat memperkirakan masih ada lima warga yang terjebak di bawah reruntuhan. Serangan di Dnipro ini juga melukai setidaknya 21 orang.
Kehancuran serupa terjadi di Chernihiv dengan kombinasi serangan rudal dan pesawat nirawak yang menewaskan dua orang dan melukai setidaknya tujuh warga lainnya.
Secara strategis, para analis menilai Rusia terus menggunakan taktik mengirim armada pesawat nirawak harian dalam skala kecil, yang diselingi dengan serangan udara masif, guna menguras kapabilitas intersepsi Ukraina.
Merespons gempuran yang kian agresif ini, Kyiv mendesak komunitas internasional untuk segera bertindak. “Setiap serangan semacam ini harus mengingatkan kepada mitra kami bahwa situasi saat ini membutuhkan tindakan yang cepat dan tegas, khususnya penguatan pertahanan udara kami dengan cepat,” tegas Zelenskyy.



