Perundingan di Islamabad Buntu, AS-Iran Gagal Capai Kesepakatan

​Dok. Reuters

ISLAMABAD – Perundingan damai maraton selama 21 jam antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan pada Minggu (12/4). 

Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa kegagalan perundingan ini dikarenakan Iran menolak menerima syarat-syarat yang diajukan oleh Washington. Vance mengklaim bahwa AS telah menyodorkan sebuah proposal yang menjadi “tawaran terbaik dan terakhir mereka” untuk menghentikan konflik, termasuk program senjata nuklir, yang disebut sebagai “tujuan utama” Donald Trump.

“Kami telah melakukan sejumlah diskusi substantif dengan Iran, itu kabar baiknya. Kabar buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan. Dan menurut saya ini adalah kabar buruk bagi Iran, jauh lebih buruk daripada bagi AS,” tegas Vance dalam konferensi persnya. 

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menjelaskan bahwa perundingan tersebut berlangsung dengan suasana “penuh ketidakpercayaan, kecurigaan, dan keraguan”. Baghaei juga mendesak Washington untuk menahan diri dari “tuntutan berlebihan dan permintaan yang melanggar hukum” dan menerima “hak serta kepentingan” Iran. Mengenai topik-topik yang dibahas, ia menyebutkan topik yang dibahas mencakup Selat Hormuz, program nuklir Iran, dan “penghentian perang menyeluruh di Iran”.

Hasil perundingan tingkat tinggi pertama antara AS dan Iran sejak 1979 yang berujung tanpa hasil kini menempatkan nasib gencatan senjata dalam ketidakpastian. Meski begitu, Baghaei mengatakan bahwa pihaknya tidak berekspektasi untuk mencapai kesepakatan dalam satu sesi saja. Teheran masih percaya bahwa kontak antara Iran, Pakistan, dan aktor-aktor di Timur Tengah masih akan berlanjut.

Tim Redaksi

Scroll to Top