Dok. Rappler
TEHERAN – Pemerintah Iran secara resmi menolak usulan gencatan senjata yang diajukan Amerika Serikat (AS). Alih-alih kesepakatan sementara, Teheran justru mendesak adanya perdamaian permanen untuk mengakhiri konflik yang tengah berkecamuk.
Mengutip laporan kantor berita IRNA, Teheran juga menepis usulan serupa yang dimediasi oleh Pakistan. Pihak Iran menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah penghentian perang secara menyeluruh dan tetap, bukan sekadar jeda pertempuran sesaat.
Di sisi lain, tensi semakin memanas setelah Presiden Donald Trump melayangkan ancaman keras dalam konferensi persnya. Trump memberi ultimatum hingga Selasa pukul 20.00 waktu Washington bagi Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Jika kesepakatan tidak tercapai, ia mengancam akan menghujani Teheran dengan “neraka”.
“Iran bisa dihancurkan dalam satu malam, dan itu mungkin terjadi besok malam,” tegas Trump dalam pengarahan pers, Selasa (7/4).
Ia bahkan sesumbar bahwa setiap jembatan di Iran akan rata dengan tanah sebelum tengah malam. Pernyataan provokatif ini pun menuai kritik tajam dan dinilai sebagai ancaman kejahatan perang yang nyata.
Menanggapi gertakan tersebut, Ebrahim Zolfaghari melalui siaran televisi nasional Iran mengecam retorika Trump sebagai pernyataan yang kasar, arogan, dan delusi.
Senada dengan itu, Wakil Menteri Urusan Pemuda Iran, Alireza Rahimi, menyerukan aksi solidaritas kepada para seniman dan atlet untuk membentuk rantai manusia sebagai bentuk protes. “Kami akan berdiri bersatu untuk menegaskan: Serangan terhadap infrastruktur publik adalah kejahatan perang,” ujar Rahami.



