Dok. The New York Times
KYIV – Militer Ukraina kembali menyerang Rusia pada Minggu (5/4) waktu setempat dengan menggunakan pesawat tanpa awak atau drone.
Serangan tersebut telah menghantam area jalur minyak di dekat Pelabuhan Primorsk, yakni salah satu gerbang ekspor minyak utama Rusia yang terletak di antara Saint Petersburg dan Perbatasan Finlandia. Area tersebut juga merupakan salah satu infrastruktur energi vital milik Rusia, dengan pengelolaan minyak yang mencapai 1 juta barel per hari. Selain itu, kilang minyak terbesar ke-4 Rusia dengan kapasitas 320.000 barel per hari, NORSI, juga terdampak.
Komandan pasukan drone Ukraina, Robert Brovdi, menyatakan bahwa pihaknya tidak hanya menyasar Primorsk tetapi juga fasilitas energi di wilayah lain.“Pasukan sistem tak berawak negara itu sekali lagi menyerang pelabuhan Transneft Primorsk dan melakukan kunjungan kehormatan ke Lukoil di Kstovo,” ucapnya.
Walau tidak ada korban jiwa dan tidak terdapat kerusakan pada pipa minyak di Pelabuhan Primorsk, namun kebocoran bahan bakar terjadi akibat terkena pecahan peluru di salah satu tangki bahan bakar.
Hingga saat ini, Ukraina telah berulang kali menargetkan infrastruktur minyak Rusia dalam upaya untuk memutus pendanaan Moskow dari sektor tersebut. Pada akhir Maret 2026 lalu, Presiden Volodymyr Zelenskyy menyampaikan bahwa beberapa mitra telah mendesak pihaknya untuk mengurangi serangannya terhadap fasilitas minyak Rusia.
Namun, serangan tetap dilancarkan akibat tingginya lonjakan harga minyak akibat konflik AS-Israel dan Iran. Oleh karena itu, langkah Ukraina tersebut bertujuan untuk menggerus pendapatan ekspor minyak Rusia.
Diketahui AS, Rusia, dan Ukraina telah mengadakan tiga putaran pembicaraan tingkat tinggi di Abu Dhabi dan Jenewa tahun ini dalam upaya untuk menegosiasikan pengakhiran perang, namun belum terdapat kemajuan. Putaran pembicaraan keempat yang dijadwalkan bulan lalu ditunda karena masih berlangsungnya perang AS-Israel di Iran.



