Dok. CNBC
TEL AVIV – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa pihaknya sepakat untuk melakukan gencatan senjata dengan Lebanon selama 10 hari mulai 16 April pukul 17.00 waktu setempat. Hal ini disampaikan langsung melalui unggahan video pada Kamis (16/4).
Namun, dalam rekaman tersebut dirinya turut menegaskan bahwa pihaknya tidak setuju untuk menarik pasukan yang telah ditugaskan di “Zona Keamanan” sepanjang 10 kilometer di Lebanon Selatan. “Kami memiliki kesempatan untuk mencapai kesepakatan perdamaian bersejarah dengan Lebanon,” ucapnya, selama kelompok Hizbullah juga melakukan pelucutan senjata dan perjanjian perdamaian abadi “berdasarkan kekuatan”.
Merespons AS dan Israel, PM Nawaf Salam menyambut pengumuman tersebut. Kelompok Hizbullah juga memerintahkan pasukannya untuk tetap berada di Lebanon Selatan dan Beirut Selatan hingga situasi jelas, sehingga pihaknya belum memastikan perlucutan senjata seperti yang disyaratkan Israel.
“Kami setuju melakukan gencatan senjata, tetapi kami tidak akan membiarkan pengalaman perjanjian 2024 terulang, ketika satu pihak mematuhinya sementara pihak Israel mengingkari kewajibannya,” kata Mahmoud Qamati, Wakil Kepala Dewan Politik Hizbullah, “Kami tetap waspada terhadap pengkhianatan Israel,”
Untuk selanjutnya, menurut pernyataan Presiden AS Donald, Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun dijadwalkan akan bertemu di Gedung Putih dalam satu atau dua minggu ke depan.



